ININEWSROOM.COM — Jalan berbatu, tanjakan terjal, dan tikungan tajam tak menyurutkan langkah para relawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bojong Kaso, Kecamatan Agrabinta, Kabupaten Cianjur.
Dengan sepeda motor roda dua yang dimodifikasi khusus, mereka menempuh perjalanan sekitar tiga jam demi mengantarkan makanan bergizi kepada anak-anak SDN Budi Setra.
Di tengah keterbatasan akses jalan, ada sesuatu yang terus mendorong mereka untuk melanjutkan perjalanan yaitu anak-anak yang menanti di ujung jalan.
Bagi sebagian orang, tiga jam perjalanan mungkin hanya soal waktu. Namun, bagi para relawan yang harus melewati jalan tanah berbatu dan perbukitan, waktu tersebut adalah perjuangan. Setiap tanjakan menjadi tantangan, setiap tikungan menuntut kehati-hatian, dan setiap perjalanan membawa tanggung jawab untuk memastikan makanan sampai dengan baik.
Sekolah yang terletak di Desa Bojong Kaso itu memang bukan tempat yang mudah dijangkau. Jalan menuju lokasi belum beraspal, sementara medan yang terjal membuat perjalanan membutuhkan tenaga, kesabaran, dan keberanian.

Tetapi, sulitnya medan tak membuat kepedulian berhenti.
Di atas sepeda motor modifikasi itulah makanan bergizi dibawa menuju sekolah. Kendaraan sederhana tersebut menjadi penghubung antara mereka yang menyiapkan makanan dan anak-anak yang menunggu untuk menerimanya.
Di tempat yang jauh dari keramaian kota, perjuangan itu menghadirkan makna yang lebih dalam daripada sekadar mengantarkan makanan.
Ketika Pekerjaan Menghadirkan Harapan Baru
Di balik perjalanan panjang tersebut, ada sosok Susilawati, relawan SPPG Bojong Kaso yang merasakan langsung perubahan dalam kehidupannya sejak program Makan Bergizi Gratis (MBG) hadir.
Sebelumnya, Susilawati menjalani keseharian sebagai ibu rumah tangga tanpa penghasilan sendiri. Kini, keterlibatannya sebagai relawan membuka kesempatan baginya untuk ikut membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Bagi seorang ibu, memiliki penghasilan sendiri bukan hanya tentang angka yang diterima. Ada rasa bangga karena bisa ikut menopang rumah tangga, ada kelegaan karena dapat membantu kebutuhan keluarga, dan ada kebahagiaan ketika pekerjaan yang dijalani juga memberikan manfaat bagi orang lain.
Terlebih, anaknya sendiri termasuk penerima manfaat program MBG.
Dengan penuh rasa syukur, Susilawati mengungkapkan perubahan yang ia rasakan.
“Alhamdulillah, semenjak ada program MBG ini sangat membantu saya dan keluarga. Tadinya saya seorang ibu rumah tangga biasa yang tidak berpenghasilan, sekarang sangat membantu perekonomian keluarga saya. Program ini juga sangat membantu anak saya sebagai penerima manfaat,” tuturnya.
Bagi Susilawati, manfaat program tersebut terasa dekat dengan kehidupannya sendiri. Ia tidak hanya menjadi bagian dari pelaksanaan program, tetapi juga menyaksikan manfaatnya dalam lingkungan keluarga.
Dari pengalaman itu, tumbuh harapan agar program MBG terus berlanjut dan mengalami perbaikan.
“Harapan saya, semoga program MBG ini tetap berlanjut dan terus dievaluasi supaya lebih baik lagi ke depannya. Semoga anak-anak di Indonesia mendapatkan gizi yang seimbang, terutama anak saya. Semoga berkah,” ucapnya.
Harapan itu sederhana, tetapi sarat makna. Susilawati ingin anak-anak memperoleh gizi yang layak, sementara keluarganya dapat terus merasakan manfaat dari kesempatan kerja yang hadir melalui program tersebut.
Di balik seragam atau tugas yang dijalankan seorang relawan, ada kehidupan yang ikut bergerak. Ada keluarga yang terbantu, kebutuhan rumah tangga yang dapat ditopang, serta harapan seorang ibu yang ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya.
Senyum yang Membuat Perjalanan Terasa Berhargal
Di SDN Budi Setra, kehadiran makanan bergizi disambut dengan antusiasme oleh para siswa.
Kepala sekolah mengungkapkan bahwa program MBG telah berjalan sekitar enam bulan. Selama itu, pihak sekolah merasakan manfaat kehadiran program tersebut, terutama dari antusiasme anak-anak yang selalu menantikan makanan setiap hari.
“Saya mewakili seluruh warga sekolah di sini, alhamdulillah manfaatnya sudah sangat terasa. Antusiasme anak-anak luar biasa, mereka sangat bangga dan senang. Malah sekarang, setiap hari kehadiran makanan bergizi ini selalu ditunggu-tunggu,” ungkap Kepala Sekolah, Suryana, Spd.
Bagi anak-anak, mungkin tidak semua memahami panjangnya perjalanan yang harus ditempuh para relawan. Mereka juga belum tentu mengetahui bagaimana sulitnya kendaraan melintasi jalan berbatu dan menanjak di kawasan perbukitan.
Yang mereka tahu, makanan datang dan mereka bisa menikmatinya bersama teman-teman di sekolah.
Namun, di balik kebahagiaan sederhana itu, ada kerja keras banyak orang yang patut dihargai.
Kepala sekolah pun menyampaikan apresiasi kepada SPPG dan seluruh relawan yang berupaya menjangkau sekolah mereka, meskipun harus menghadapi medan yang tidak mudah.
“Sudah sekitar enam bulan program ini berjalan, dan alhamdulillah terima kasih kami sampaikan kepada SPPG beserta para relawan yang rela menempuh perjalanan berat demi anak-anak kami di sini,” katanya.
Ucapan terima kasih tersebut menjadi pengakuan atas perjuangan yang mungkin tidak terlihat oleh mereka yang hanya menyaksikan makanan tersaji di meja.
Sebab, sebelum makanan sampai ke sekolah, ada perjalanan panjang yang harus dilalui. Ada tenaga yang dikeluarkan, waktu yang dikorbankan, dan tanggung jawab yang harus dijaga.
Semua itu dilakukan agar anak-anak di wilayah terpencil tetap dapat menerima manfaat program.

Jarak Boleh Jauh, Perhatian Jangan Menjauh
Kisah dari SDN Budi Setra memperlihatkan bahwa tantangan geografis masih menjadi kenyataan bagi masyarakat di sejumlah wilayah pelosok Kabupaten Cianjur.
Jalan yang sulit dilalui bukan hanya persoalan perjalanan, tetapi juga menjadi tantangan dalam menjangkau layanan dan kebutuhan masyarakat. Karena itu, upaya menghadirkan pelayanan hingga ke daerah terpencil membutuhkan kesungguhan, dukungan, serta evaluasi yang berkelanjutan.
Program MBG tentu tetap perlu terus diperbaiki agar pelaksanaannya semakin baik dan manfaatnya dapat dirasakan secara optimal. Namun, pengalaman para relawan dan warga sekolah di SDN Budi Setra memperlihatkan arti penting kehadiran program tersebut bagi mereka yang selama ini menghadapi keterbatasan akses.
Di sana, perjuangan tidak selalu hadir dalam bentuk tindakan besar yang disaksikan banyak orang. Terkadang, perjuangan itu sesederhana menyalakan sepeda motor pada pagi hari, menata makanan dengan hati-hati, lalu menempuh jalan terjal selama berjam-jam.
Tidak ada tepuk tangan di setiap tikungan. Tidak ada jaminan bahwa perjalanan akan selalu mudah. Namun, tugas tetap dijalankan karena ada anak-anak yang menunggu.
Bagi Susilawati, pekerjaan itu membawa manfaat bagi keluarganya. Bagi sekolah, kehadiran MBG menjadi sesuatu yang disambut dengan rasa syukur.
Sementara bagi anak-anak, makanan yang datang setiap hari menjadi bagian dari pengalaman belajar mereka di sekolah.
Ketiganya terhubung dalam satu kisah tentang kesempatan, kepedulian, dan harapan yang tumbuh di tengah keterbatasan.
Sebuah Perjalanan yang Lebih dari Sekadar Mengantar Makanan
Tiga jam perjalanan menuju SDN Budi Setra bukan sekadar hitungan waktu. Di sepanjang jalan itu, ada ketekunan para relawan yang berusaha memastikan anak-anak di pelosok tidak terlewatkan.
Mungkin bagi sebagian orang, seporsi makanan hanyalah hidangan yang akan habis setelah disantap. Namun, bagi mereka yang tinggal jauh dari pusat keramaian, kehadiran program yang menjangkau sekolah mereka memiliki arti tersendiri.
Ada perhatian yang sampai ke tempat mereka belajar. Ada orang-orang yang bersedia menempuh medan sulit demi menjalankan tugasnya. Dan ada harapan bahwa keterbatasan geografis tidak membuat anak-anak kehilangan kesempatan untuk tumbuh dengan lebih baik.

Barangkali, anak-anak itu tidak akan pernah benar-benar mengetahui betapa berat perjalanan yang ditempuh para relawan. Mereka hanya menerima makanan, menikmatinya, lalu kembali belajar dan bermain bersama teman-temannya.
Tetapi, di balik setiap makanan yang sampai, ada ketulusan yang layak dikenang.
Di perbukitan Bojong Kaso, sepeda motor modifikasi itu kembali menjadi saksi. Roda-rodanya melintasi jalan berbatu, membawa makanan sekaligus pesan bahwa kepedulian tidak semestinya berhenti hanya karena jarak.
Sebab, anak-anak di pelosok desa memiliki hak dan mimpi yang sama dengan anak-anak lainnya. Mereka berhak mendapatkan perhatian, kesempatan belajar, dan asupan gizi yang layak.
Jalan boleh terjal, perjalanan boleh memakan waktu berjam-jam, tetapi harapan anak-anak tak boleh terhenti oleh jauhnya jarak. ( Wiz/ Tim Ini Digital Network)
