Di Antara Dinding Putih, Harapan Itu Kembali Menyala di Nagari Salareh Aia

Di Antara Dinding Putih, Harapan Itu Kembali Menyala di Nagari Salareh Aia

AGAM | ININEWAROOM.COM — Senja perlahan turun di Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Sumatra Barat. Di antara deretan hunian sementara berwarna putih, suara tawa anak-anak memecah sunyi. Ada yang berlarian di teras, ada pula yang sibuk bermain rumah-rumahan bersama orang tuanya. Pemandangan ini terasa sederhana, namun bagi warga terdampak banjir dan longsor, inilah potret kebahagiaan yang sempat lama hilang.

Setelah berbulan-bulan hidup di pengungsian dengan segala keterbatasan, kini mereka menjejakkan kaki di Huntara Kayu Pasak, sebuah tempat berlindung yang memberi rasa aman dan secercah harapan baru.

Di salah satu huntara, seorang ibu tampak sibuk merapikan alas tidur. Tangannya bergerak pelan, seolah ingin memastikan setiap sudut ruang kecil itu nyaman ditempati keluarganya malam nanti. “Lagi beres-beres tempat tidur. Merapikan arah mana kita mau tidur. Barang-barang posisi di mana kita taruh,” ujarnya lirih, dengan senyum tipis yang sulit disembunyikan.

Sejak galodo melanda Nagari Salareh Aia pada 27 November 2025, ia bersama keluarga harus tinggal di gedung SDN 05 Kayu Pasak. Ruang kelas berubah menjadi tempat tidur darurat. Privasi nyaris tak ada, kenyamanan menjadi kemewahan.
“Malam ini tinggal di huntara,” katanya lagi, kali ini dengan nada lega.

Puluhan huntara kini berdiri rapi di kawasan Kayu Pasak. Di setiap pintu tertera nama penghuni, lengkap dengan nomor dan blok. Bukan sekadar penanda, tapi simbol bahwa setiap keluarga kembali memiliki ruang bernama “rumah”, meski sementara.

Di dalam huntara, fasilitas dasar telah tersedia. Alas tidur dari BNPB tergelar, kipas angin berputar perlahan, listrik menyala stabil, dan ponsel-ponsel warga kembali terisi daya, sebuah detail kecil yang berarti besar di tengah situasi pascabencana. Air bersih mengalir untuk kebutuhan sehari-hari, sementara kompor dan tabung gas siap digunakan untuk memasak hidangan sederhana keluarga.

Di teras, pot-pot tanaman menghiasi sudut hunian. Hijau daunnya seolah menjadi penanda kehidupan baru yang tumbuh di atas trauma bencana. Beberapa warga duduk lesehan, berbincang ringan. Tiga orang ibu terlihat makan bersama sambil mengasuh anak, tertawa kecil di sela-sela suapan.

Baca Juga

Bagi mereka, huntara bukan sekadar bangunan kayu dan dinding putih. Ia menjadi ruang pemulihan, tempat luka perlahan dirawat, tempat anak-anak kembali mengenal rasa aman, dan orang tua bisa menghela napas lebih panjang.

Pada Sabtu (24/1), sebanyak 117 huntara di Kayu Pasak diresmikan oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno bersama Menteri Dalam Negeri M. Tito Karnavian.

Peresmian itu menjadi penanda dimulainya babak baru pemulihan pascabencana di Sumatra Barat. “Hari ini hunian sementara kita resmikan. Ini bentuk percepatan pemulihan bencana di Sumbar,” ujar Pratikno.

Ia menegaskan percepatan penanganan bencana dilakukan sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto dengan melibatkan seluruh pihak.Tak hanya di Agam, huntara juga hadir untuk warga terdampak di Padang Pariaman, Lima Puluh Kota, dan Pesisir Selatan. Namun bagi warga Nagari Salareh Aia, malam pertama di Huntara Kayu Pasak terasa istimewa.

Di balik pintu-pintu kecil itu, ada doa yang dipanjatkan pelan, ada harapan yang kembali disusun. Meski rumah ini sementara, rasa aman yang hadir malam itu memberi kekuatan baru—bahwa setelah bencana, hidup tetap bisa dirajut kembali, satu langkah kecil dari sebuah hunian sederhana.***

Sumber : Jaringan Pemred Promedia
Editor     : Deni Hendra

Beranda » Di Antara Dinding Putih, Harapan Itu Kembali Menyala di Nagari Salareh Aia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *